Friday, August 13, 2010

Sedikit Peringatan

Some people have so much respect for their superiors they have none left for themselves."
Peter McArthur

Saturday, July 31, 2010

Allah berseru pada hamba-Nya,

“Hendaklah engkau bekerja tanpa melihat pekerjaan itu!

Hendaklah engkau bersedekah tanpa memandang sedekah itu!

Engkau melihat kepada amal perbuatanmu, walau baik sekalipun, tak layak bagi-Ku untuk memandangnya. Maka janganlah engkau masuk kepada-Ku besertanya!

Sesungguhnya, jika engkau mendatangi-Ku berbekal amal perbuatanmu, maka akan Aku sambut dengan penagihan dan perhitungan. Jika engkau mendatangi-Ku berbekal ilmu, maka akan Aku sambut dengan tuntutan! Dan jika engkau mendatangi-Ku dengan ma’rifat, maka sambutan-Ku adalah hujjah, padahal hujjah-Ku pastilah tak terkalahkan.

Hendaklah engkau singkirkan ikhtiar (ikut mengatur dan menentukan kehendak-Nya untuk dirimu—red), pasti akan aku singkirkan darimu tuntutan. Hendaklah engkau tanggalkan ilmumu, amalmu, ma’rifat-mu, sifatmu dan asma (nama) mu dan segala yang ada (ketika mendatangi-Ku), supaya engkau bertemu dengan Aku seorang diri.

Bila engkau menemui-Ku, dan masih ada diantara Aku dan engkau salah satu dari hal-hal itu, —padahal Aku-lah yang menciptakan semua itu, dan telah Aku singkirkan semua itu darimu karena cinta-Ku untuk mendekat kepadamu, sehingga janganlah membawa semua itu ketika mendatangi-Ku—, jika masih saja engkau demikian, maka tiada lagi kebaikanmu yang tersisa darimu.

Kalau saja engkau mengetahui, ketika engkau memasuki-Ku, pastilah engkau bahkan akan memisahkan diri dari para malaikat, sekalipun mereka semua saling bahu-membahu untuk membantumu, karena keraguanmu itu (bahwa ada penolongmu dihadapan-Nya selain Dia—red.), maka hendaklah jangan ada lagi penolong selain Aku.

Jangan pernah engkau melangkah ke luar rumah tanpa mengharap keridhaan-Ku, sebab Aku-lah yang menunggumu (di luar rumah—red.) untuk menjadi penuntunmu.

Temuilah Aku dalam kesendirianmu, sekali atau dua kali setelah engkau menyelesaikah shalatmu, niscaya akan Aku jaga engkau di siang dan malam harimu, akan Aku jaga pula hatimu, akan Aku jaga pula urusanmu, dan juga keteguhan kehendakmu.

Tahukah engkau bagaimana caranya engkau datang menemui-Ku seorang diri? Hendaknya engkau menyaksikan bahwa sampainya hidayah-Ku kepadamu adalah karena kepemurahan-Ku. Bukan amalmu yang menyebabkan engkau menerima ampunan-Ku, bukan pula ilmumu.

Kembalikan pada-Ku buku-buku ilmu pengetahuanmu, pulangkan pada-Ku catatan-catatan amalmu, niscaya akan aku buka dengan kedua tangan-Ku, Kubuat ia berbuah dengan pemberkatan-Ku, dan akan kulebihkan semuanya itu karena kepemurahan-Ku.”

(Dari kitab ‘Al-Mawaqif wal Mukhtabat’, Imam An-Nifari, dengan beberapa kalimat yang diperbaiki tata bahasanya.)

Sumber

Ahadiah

Saya cuba memahami hakikat tersebut dan telah melayari pelbagai website dan blog, memungut maklumat dan huraian semoga dapat menambah kefahaman dan membina dapatan yang yang boleh memberi makna kepada penulis sendiri sejelas-jelasnya. Secara amnya martabat tujuh dipelopori oleh golongan sufi yang sampai ke takah wahdatul wujud. Takah tertinggi bagi ahli sufi.

Wahdatulwujud secara umum.

Hamka mengemukakan bahwa faham Wahddatul Al-Wujud yang melahirkan ajaran Martabat Tujuh muncul karena tak dibedakan atau dipisahkan antara asyik dengan masyuknya. Dan apabila ke-Ilahi-an telah menjelma di badan dirinya, maka tidaklah kehendak dirinya yang berlaku, melainkan kehendak Allah.

Dr. Simuh pun kembali menambahkan, dalam ajaran martabat tujuh, Tuhan menampakkan DiriNya setelah bertajjali dalam tujuh di mana ketujuh tingkatan tersebut dibagi dalam dua wujud. Yakni tiga aspek batin dan empat aspek lahir. “Tiga aspek batin terdiri dari Martabat Ahadiyah (kesatuan mutlak), Martabat Wahdah (kesatuan yang mengandung kejamakan secara ijmal keseluruhan), dan Martabat Wahadiyah (kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batas setiap sesuatu). Sedangkan aspek lahir terdiri Alam Arwah (alam nyawa dalam wujud jamak), Alam Mitsal (kesatuan dalam kejamakan secara ijmal), Alam Ajsam (alam segala tubuh, kesatuan dalam kejamakan secara terperinci dan batas-batasnya) dan Insan Kamil (bentuk kesempurnaan manusia).

Martabat berarti tingkatan. Dalam ajaran tasawuf seorang yang ingin mencari Tuhannya, harus melalui tingkatan-tingkatan, inilah yang disebut Martabat. Tingkatan-tingkatan ini tidak selalu berjumlah tujuh. Tergantung kepada aliran taswuf itu sendiri. Ada yang 7 ada yang lebih dari 7. Tujuh martabat yang harus dilalui oleh seorang sufi adalah : lembah pencarian (talab), cinta ('isyq), makrifat (ma'rifah), kepuasan hati (istighna'), keesaan (tawhid), ketakjuban (hayrat), kefakiran (faqr) dan inklusif (fana').

Sumber:

Martabat Pertama:

Martabat pertama adalah Martabat Ahadiyah yang diungkapkan sebagai Martabat Lata’ayyun, atau al-Ama (tingkatan yang tidak diketahui). Disebut juga Al-Tanazzulat li ‘l-Dhat (dari alam kegelapan menuju alam terang), al-Bath (alam murni), al-Dhat (alam zat), al-Lahut (alam ketuhanan), al-Sirf (alam keutamaan), al-Dhat al-Mutlaq (zat kemutlakan), al-Bayad al-Mutlaq (kesucian yang mutlak), Kunh al-Dhat (asal terbuntuknya zat), Makiyyah al-Makiyyah (inti dari segala zat), Majhul al N’at (zat yang tak dapat disifati), Ghayb al Ghuyub (gaib dari segala yang gaib), Wujud al-Mahad (wujud yang mutlak).

Sumber:
http://jalantrabas.blogspot.com/2008/09/tentang-martabat-tujuh.html

Wednesday, July 28, 2010

Ilmu dan Cinta

Ketidakramahan dari orang bijak lebih baik daripada kebaikan hati orang bodoh.

Nabi berkata, “Kebencian dari kearifan lebih baik daripada rasa cinta yang datang dari orang bodoh.”


Dengan cinta, pahit menjadi manis

Dengan cinta, tembaga menjadi emas

Dengan cinta, sampah menjadi jernih

Dengan cinta, yang mati menjadi hidup

Dengan cinta, raja menjadi budak

Dari ilmu, cinta dapat tumbuh.

Pernahkah kebodohan menempatkan orang di atas tahta begini?

-Jalaluddin Rumi

Syair Martabat Tujuh

Apabila kemudian dengarkan disini hai yang menuntut haqq
wujud itulah yang mutlak, wujud yang mutlak
wujud itulah `ainu `l-haqq
tiada mongering dia ada nya mutlak

wujud itulah yang bernama tanzih
adanya munazzah daripada sekalian tasbih
itu tiada berubah daripada tanzih
……..
wujud itulah martabat layak
menyatakan dirinya dgn rupa yang banyak
dengan hambanye netiasa ia jinak
seketika jua adapun tiada ia jarak (ertinya tiada bercerai)

Wujud itulah martabat kathir
Tanzihnya lagi kepada `alam saghir dan kabir
Disana sanalah rajul amin dan wazir
Dan segala ghani dan faqir

Dan wujud itulah martabatnya alami
Ada munazzah daripada sekaliatn sifat peri
Daripada enam jahat pun ia khali (tiada p.s.h?)
Wa huwa`l-ana kama kanapun demikian lagi

Pertama-tama wujud wujud itu bernama ahadiyat
Di sana sifat sekalian `ibarat (tiada tersebut)
Disana sifat ada asma`iyat
Itulah martabat haqiqat dzat

Ibarat dan syarat pun tiada disana
Hanya munazzah juga semata
Adanya itlaq dan taqayyud tiada
Sertanya hanya ia juga

Kedua mertabat wujud itu bernama wahda
Itulah haqiqat Muhammad nyata
Yang pertama di dalam uluhiyah
…………
Sekalian wujud dhatpun sama
Atas jalan ajmal juga dikata
Hendaklah kau ketahui haqiqat kata
Pikirkan nyata(-Nyata)

Ketiga martabat wujud itu bernama wahidiyah
Itulah recana wahdat haqiqat insaniyah
Disanalah nyata ma`lum di dalam `ilmiah
Atas jalan bernama taghtiyah

Maratabat wujud itu ketiganya qadim
Tiada mengetahui dia melainkan yang berhati salim
Banyaklah membantah dia segala `alim
Dan hakim mengatakan ma`lum qadim
(martabat wahidiyah tiada qadim)

keempat martabat wujud bernama arwah
itulah recana (ka nur fi`l-misbah)
dan itu menerangkan segala arwah
seperti (dzulmatu `l-lail) diterangkan nuru `l-misbah

arwah itulah yang mengerakkan sekalian badan
adanya seperti dengan sifat tuhan (kita)
tiada ia minum tiada ia makan
lagi adanya (mujarrad) tiada dapat disekutukan

arwah itulah martabat `aliyun
sungguh pua ia dibawah kun fayakun
lagipun tiada melihat dia sekalian `ainun
tiada siapa mendapat dia melainkan `alimun

kelima mertabat wujud itu bernama `alam mithal
itulah recana daripada zillu `l-jalal wa `l-jamal
ialah rupa `alam s.`i.y.y (?)
bayang bayang kebesaran dan keelokan seperti sekalian tafsil dan jamal

`alam mithal itulah sudah tersalin
seperti didalam ma`lumat yang lagi bathin
………benar hurufnya salin
itulah rupa sekalian nin

`alam mithal itulah terlalu syarif
bangsa kenyataan tuhan yang bernama latif
adanya merakkab kepada latif dan kathif
kasih kepada sekalian (qawi)(kemulian) dan dha`if

keenam mertabat wujud itu bernama `alam ajsam
itulah recana daripada wujud khas dan `amm
sekalian itulah seperti tamam
daripada faidhani `l-jalal wa `l-karam

ajsam itulah tubuh yang kathif
ada dalamnya terbunyi wujud yang latif
disanalah nyata qawi dan dha`if
daripada sekaliannya hina hainuna dan sarif

ketujuh martabat wujud itu mengimpunkan segala rawatib
itulah insane terlalu ghalib
wahdah dan wahidiyah disana wajib
nurani dan jasmani terlalu `aja`ib

Insan itulah kesudah sudahan azali
Ialah kenyataan tuhan bernama ilahi
Lagipun ia bernama wujud idhafi
Beroleh pakaian daripada wujud haqiqi

Insan itulah yang bernama kamaliah
Tempatnya menzahirkan sifat asma`iyah
Ialah kenyataan awal dan akhir
Dan kenyataan batin dan dzahir

Adam itulah bapa insane
Kenyataan (huwa) tuhan padanya terlalu `iyan (yg Benar)
Sabda rasullullah terlalu bayan
Inna`llaha kha(la)qa adama `ala surati`l-rahman
(artinya allah taala menjadikan esa rupa yang murah

insan itulah kenyataan subhan
dzahirnya esa terlalu bayan (terlalu Rahsia)
ma dzahartu fi syai`in itulah firman
ka dzuhuri fi `l-insan terlalu iyan (yg Benar)

itulah bernama alam kabir
sungguhpun dilihat orang saghir
terhimpun dalamnya sekalian nadhir
tiada mengetahui dia segala yang kafir
(melainkan segala ahli `l-basir)

insane itulah terlalu indah
dari kerana ia kenyataan `a-yan thabitah
daripada nyata sekalian perintah
daripada tempatnya tiada ia berpindah

insane itulah terlalu mulia
oleh kerana ia bernama rahsia
itulah tempatnya yang amat mulia
ialah haqiqat sebenarlah manusia

seperti firman allah al-insanu sirri wa ana-sir uhu
lagipun sabda nabi man arafa nafsahu
bahwa sesungguhnya faqad ` arafa rabbahu
kata arif yang sempurna tahu

Wa kana `illahu wa la syai(un) ma`ahu
Tiada disana serta ghairahu
Hanya adanya semata wahdahu (?)
Itulah ma`rifat yang sempurna tahu

Heninglah laut semata mata
Hapuslah rupa segala yang nyata
Pendeklah hendak disana kata
Melainkan hairan pejamkan mata.


Wa`llahu a`lam bi`l-sawab. Tammat kitab al-harakah fi yaum al-thalathata……

Amatullah itulah nama nye,
nur Muhammad menjaga sifat
Allah pula menjaga Dzat

Alif itu tidak berhuruf, punya kuasa yg amat besar.

posted by BuKiT MaRaK at 3:48 A

Sumber : http://suaramuslim.blogspot.com/2010/02/syair-martabat-tujuh.html

Tuesday, July 27, 2010

Ibu segala Kegelapan

Adapun ibu segala kegelapan adalah:-
Cinta Dunia

Unsur-unsur kegelapan

-Takbur dengan apa yang dimiliki seperti pangkat,harta,rupa,kekuatan,keturunan,pemgaruh,ilmu dan ibadah.
-Rendah diri dengan kemiskinan dan kekurangan
-Merasa hina bila berhadapan dengan orang kaya dan berpangkat.
-Tamak sehingga merasa tidak mencukupi.
-Dengki sehingga mahu dihilangkan nikmat dan kelebihan yang dimiliki.
orang lain.
-Dendam.
-Merasa panjang umur.
-Panjang angan-angan terhadap dunia
-Riya' yang tercela.
-Ujub (merasa sempurna)
-Cintakan penghormatan,kemasyhuran dan pujian.
-Putus asa.
-malas beribadah.
-Mencintai makhluk seperti wanita,isteri, suami dan anak-anak melebihi Allah dan Rasul.
-Sentiasa resah dan gelisah.
-Tiada keyakinan dan penyerahan kepada Allah.
-Banyak menghabiskan masa pada perkara yang melalaikan.
-Takut kepada kematian.
-Asyik dengan dunia.
-

Monday, July 26, 2010

Hazrat Shah Niaz R.A.

Hazrat Shah Niaz R.A.

English translation:

I see neither my body nor my soul,
I see only you as my inward being and outward being.

Wheresoever I look and whatsoever I see,
I see only the vision of God.

That which come into being is nothing but the real in itself,
I see only one current of existence running everywhere.

If any worldly object is dear other than the real,
I regard it as imaginary and illusory.